Hasan Al-Bashri: Sabiduría hablada desde la ciudad de Basora
La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.
⏳ El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Ia lahir di Madinah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dari ibu yang menjadi pelayan Ummu Salamah, istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Konon sang Ummul Mukminin sendiri pernah mengasuh bayi itu. Ia tumbuh di lingkungan yang udaranya masih dipenuhi nafas para sahabat — dan kelak menjadi tokoh tabi'in yang paling masyhur: Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri. Pindah ke Bashrah, ia menimba ilmu dari para sahabat besar dan menjadi rujukan kota itu dalam ilmu, fatwa, dan nasihat. Yang membuat majelisnya berbeda adalah dua hal: kefasihannya yang luar biasa, dan — lebih penting — hatinya. Kata orang-orang zamannya, jika Hasan berbicara tentang akhirat, seolah-olah ia baru melihatnya dengan mata kepala; jika ia mengingatkan tentang kematian, seolah kematian berdiri di pintu. Nasihat-nasihatnya diwariskan turun-temurun karena menghunjam tanpa basa-basi. "Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari; setiap satu hari pergi, pergilah sebagian dirimu." "Dunia itu tiga hari: kemarin telah pergi dengan segala isinya, esok belum tentu engkau menemuinya, maka milikmu hanyalah hari ini — beramallah di dalamnya." Tentang manusia yang terus menunda taubat ia berkata: mereka tertipu oleh kalimat 'nanti'. Keberaniannya kepada penguasa juga tercatat. Di hadapan gubernur yang zalim, ia tetap menyampaikan kebenaran dengan hikmah — tidak menjilat, tidak pula memberontak menumpahkan darah. Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah dan meminta nasihatnya, Hasan menulis surat-surat yang menjadi cermin bagi setiap pemimpin: ingatkan bahwa kekuasaan adalah titipan sebentar, dan yang kekal hanya keadilan yang ditegakkan di dalamnya. Ia wafat di Bashrah pada tahun 110 hijriah, diiringi hampir seluruh penduduk kota — sampai-sampai, kata para perawi, masjid jami tidak menyelenggarakan shalat ashar berjamaah seperti biasa karena kosongnya kota mengantar jenazahnya. Dari Hasan Al-Bashri kita belajar bahwa nasihat yang menggerakkan bukan lahir dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari hati yang lebih dulu mengamalkannya. Zuhud bukan membenci dunia, tetapi tidak membiarkan dunia bertahta di hati — dan itulah yang membuat kata-katanya tetap hidup tiga belas abad kemudian.