Dawa
🔍

Abdullah bin Al-Mubarak: Ulama, comerciante y muyahid

La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.

El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Jika ada satu nama dari generasi tabi'ut tabi'in yang membantah anggapan bahwa kesalehan berarti menjauh dari dunia kerja, dialah Abdullah bin Al-Mubarak — ulama besar Khurasan, lahir di Marw tahun 118 hijriah, dari ayah keturunan Turk dan ibu dari Khawarizm. Ia mengembara menuntut ilmu ke hampir seluruh negeri Islam: Haramain, Syam, Mesir, Irak, Yaman — berguru kepada tokoh-tokoh besar zamannya dan meriwayatkan puluhan ribu hadits. Karyanya, Kitab Az-Zuhd dan Kitab Al-Jihad, termasuk karya tertua di bidangnya yang sampai kepada kita. Para ulama memujinya dengan kalimat yang jarang diberikan: terkumpul padanya ilmu, fiqih, adab, keberanian, kedermawanan, dan wara' sekaligus. Sebagian menyebutnya "orang alimnya timur dan barat". Yang unik: Ibnul Mubarak adalah saudagar sukses. Ia berdagang dengan sungguh-sungguh dan hartanya besar — tetapi arah hartanya yang membedakan. Setiap tahun ia membiayai rombongan haji, menanggung kebutuhan para ulama dan penuntut ilmu, dan melunasi utang orang-orang yang kesulitan, sering kali secara rahasia; penerimanya baru tahu setelah ia wafat. Katanya, ia berdagang justru untuk menjaga kehormatan ilmu — agar para ulama tidak perlu menengadahkan tangan ke penguasa. Hidupnya berputar pada tiga poros: musim mengajar dan meriwayatkan hadits, musim berdagang, dan musim ribath — berjaga di perbatasan menghadapi Romawi. Dari medan itulah lahir suratnya yang masyhur kepada Al-Fudhail bin Iyadh, ahli ibadah Haramain, berisi bait yang menggetarkan: "Wahai ahli ibadah dua tanah suci, seandainya engkau melihat kami, niscaya engkau tahu bahwa engkau baru bermain-main dalam ibadah." Bukan merendahkan ibadah — tetapi mengingatkan bahwa iman punya medan-medan yang menuntut pengorbanan nyata. Ia wafat tahun 181 hijriah di Hit, dalam perjalanan pulang dari berjaga di perbatasan. Dari Ibnul Mubarak kita belajar bahwa dunia dan akhirat tidak harus bermusuhan: harta di tangan orang saleh menjadi sayap kebaikan, dan ilmu yang dipikul jiwa pemberani menjadi cahaya yang menjaga umat. Kuncinya satu — semua porosnya ikhlas karena Allah.
Abdullah bin Al-Mubarak: Ulama, comerciante y muyahid — Dawa