Dawa
🔍

Fe en Qada y Qadar: calma frente al destino

La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.

El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Tidak ada rukun iman yang lebih sering disalahpahami daripada iman kepada qada dan qadar. Sebagian orang mengiranya ajaran pasrah yang mematikan usaha; sebagian lagi menolaknya karena merasa hidupnya ditentukan sepihak. Keduanya keliru — dan memahami takdir dengan benar justru menghasilkan manusia yang paling tangguh. Para ulama menjelaskan empat tingkatan iman kepada takdir. Pertama, al-ilmu: Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi. Kedua, al-kitabah: semuanya tertulis di Lauh Mahfuzh (QS Al-Hadid: 22). Ketiga, al-masyi'ah: tidak ada yang terjadi di luar kehendak-Nya. Keempat, al-khalq: Allah pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan hamba — sementara hamba tetap memiliki kehendak dan pilihan yang karenanya ia diberi pahala atau dosa. Islam menolak dua kutub ekstrem: menyangka manusia terpaksa seperti wayang tanpa pilihan, dan menyangka manusia menciptakan nasibnya sendiri lepas dari Allah. Yang benar berada di tengah: kita berikhtiar dengan sungguh-sungguh karena diperintahkan, lalu menerima hasilnya dengan ridha karena itu ketetapan-Nya. Umar bin Khattab pernah ditanya ketika menghindari wilayah wabah: "Apakah engkau lari dari takdir Allah?" Beliau menjawab: "Kami lari dari takdir Allah menuju takdir Allah." Ikhtiar dan takdir tidak pernah bertentangan. Buah iman kepada takdir adalah ketenangan yang tidak bisa dibeli. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang beriman; semua urusannya baik baginya. Jika mendapat nikmat ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, dan itu baik baginya" (HR Muslim). Beliau juga berpesan: jika sesuatu menimpamu, jangan berkata "seandainya aku berbuat begini" — karena kata "seandainya" membuka pintu bisikan setan. Rezeki yang lewat bukan salah jalan; musibah yang datang bukan tanpa hitungan. Yang menjadi tanggung jawab kita hanyalah ikhtiar dan sikap — dan pada dua hal itulah nilai kita di sisi Allah ditentukan.
Fe en Qada y Qadar: calma frente al destino — Dawa