Imam Al-Bukhari: Penjaga Sabda Nabi
La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.
⏳ El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Di kota Bukhara — kini di Uzbekistan — lahir pada tahun 194 hijriah seorang anak bernama Muhammad bin Ismail. Ayahnya, seorang ulama, wafat saat ia kecil; masa kecilnya sempat diuji dengan kebutaan, dan menurut riwayat yang masyhur penglihatannya kembali setelah doa ibunya yang tak putus-putus. Anak itu kelak dikenal dunia dengan satu nama: Imam Al-Bukhari. Bakatnya menakjubkan sejak dini: ia mulai menghafal hadits sebelum usia sepuluh tahun, dan pada usia enam belas telah hafal kitab-kitab ulama besar. Kekuatan hafalannya melegenda — dalam ujian yang masyhur di Baghdad, para ulama sengaja mengacak-acak sanad dan matan seratus hadits untuk mengujinya; ia mengembalikan semuanya ke susunan yang benar satu per satu tanpa cacat. Ia mengembara puluhan tahun — Khurasan, Hijaz, Syam, Mesir, Irak — menemui lebih dari seribu guru dan mengumpulkan ratusan ribu riwayat. Dari lautan itu ia menyaring dengan syarat paling ketat yang pernah diterapkan: perawi harus adil, kuat hafalannya, dan benar-benar terbukti bertemu gurunya. Enam belas tahun ia menyusun Al-Jami' Ash-Shahih — dan menurut riwayat, ia tidak menuliskan satu hadits pun ke dalamnya kecuali setelah mandi dan shalat dua rakaat memohon petunjuk. Hasilnya: Shahih Al-Bukhari, kitab yang disepakati umat sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur'an. Ketelitian ilmiahnya dibungkus ketakwaan pribadi. Ia sangat berhati-hati soal harta, dermawan kepada penuntut ilmu, dan menjauhi majelis penguasa. Justru karena menolak memberi pengajaran khusus di istana — ia berkata ilmu itu didatangi, bukan mendatangi — ia diusir dari kampung halamannya di akhir hayatnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 hijriah di Khartank, dekat Samarkand. Umat Islam berhutang kepadanya dengan cara yang sulit dilukiskan: jutaan Muslim setiap hari mengamalkan sunnah yang sampai kepada mereka melalui saringannya. Dari Al-Bukhari kita belajar bahwa kejujuran dan ketelitian adalah ibadah; bahwa satu karya yang digarap dengan takwa selama enam belas tahun bisa lebih berharga daripada seribu karya yang tergesa-gesa; dan bahwa doa seorang ibu mampu membuka jalan sejarah.