Dawa
🔍

Imam Al-Ghazali: Hujjatul Islam en busca de la verdad

La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.

El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali lahir di Thus, Khurasan, tahun 450 hijriah, dari keluarga sederhana — ayahnya pemintal wol yang sebelum wafat menitipkan dua putranya kepada seorang sufi agar dididik. Dari titik yang bersahaja itu, anak ini menanjak hingga menjadi pemikir Muslim yang paling banyak dibicarakan sepanjang seribu tahun terakhir. Kecemerlangannya membawanya belajar kepada Imam Al-Haramain Al-Juwaini di Naisabur, lalu menarik perhatian wazir agung Nizhamul Mulk. Pada usia tiga puluhan ia diangkat memimpin Madrasah Nizhamiyah Baghdad — universitas paling bergengsi di dunia Islam masa itu. Ratusan ulama menghadiri kuliahnya; namanya bersinar; para pembesar menghormatinya. Ia menguasai fiqih Syafi'i, ushul, ilmu kalam, dan membedah filsafat hingga menulis kritik yang menggemparkan terhadap para filsuf. Lalu terjadi peristiwa yang membuat kisahnya abadi: di puncak kejayaan itu, ia mengalami krisis ruhani yang hebat. Ia bertanya pada dirinya sendiri — untuk siapa sebenarnya semua ilmu dan kemasyhuran ini? Ia mendapati hatinya tidak tenang, dan khawatir amalnya tercemar cinta kedudukan. Sampai-sampai lisannya kelu tak mampu mengajar. Maka ia meninggalkan Baghdad, jabatan, dan nama besarnya — mengembara bertahun-tahun dalam khumul (menyembunyikan diri) di Damaskus dan Baitul Maqdis, menyucikan hati dan menata ulang niat. Dari pengembaraan itu lahir magnum opus-nya: Ihya' Ulumiddin — Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama — proyek raksasa yang menyatukan fiqih lahir dengan fiqih batin: shalat berikut kekhusyukannya, muamalah berikut kejujurannya, ilmu berikut keikhlasannya. Kitab-kitabnya yang lain, seperti Bidayatul Hidayah dan Minhajul Abidin, hingga kini dikaji di pesantren-pesantren Indonesia. Akhir hayatnya ia kembali ke Thus, mendirikan majelis ilmu dan mendalami Shahih Al-Bukhari, hingga wafat tahun 505 hijriah. Dari Al-Ghazali kita belajar pelajaran yang menusuk: prestasi tertinggi pun bisa kosong jika niatnya keruh — dan tidak ada kata terlambat untuk membongkar diri sendiri demi keikhlasan. Gelarnya Hujjatul Islam ia peroleh bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena keberaniannya menundukkan kecerdasan itu di hadapan Allah.
Imam Al-Ghazali: Hujjatul Islam en busca de la verdad — Dawa