Dawa
🔍

Imam Asy-Shafi'i: viaje del conocimiento desde Gaza a Egipto

La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.

El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i lahir di Gaza tahun 150 hijriah — tahun wafatnya Imam Abu Hanifah, seolah sejarah sedang melakukan serah terima. Ayahnya wafat saat ia kecil; ibunya yang miskin membawanya ke Makkah, tanah asal keluarganya yang bernasab sampai kepada kakek buyut Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kemiskinannya tidak menghalangi kecemerlangannya. Ia menghafal Al-Qur'an pada usia belia, lalu menghafal kitab Al-Muwaththa' karya Imam Malik — dan pada usia yang sangat muda para guru di Makkah telah mengizinkannya berfatwa. Ia pergi ke Madinah untuk berguru langsung kepada Imam Malik, membaca Al-Muwaththa' di hadapannya dari hafalan hingga sang imam kagum. Setelah itu ia menimba fiqih ahli ra'yi dari murid-murid Abu Hanifah di Irak, terutama Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani. Di sinilah keistimewaan Syafi'i: ia berdiri di pertemuan dua sungai besar — madrasah hadits Hijaz dan madrasah nalar Irak — lalu memadukannya. Dari perpaduan itu lahir karyanya Ar-Risalah, kitab pertama yang menyusun ushul fiqih: kaidah-kaidah baku tentang bagaimana hukum digali dari Al-Qur'an, sunnah, ijma', dan qiyas. Para ulama menyebutnya peletak dasar disiplin ilmu ini. Tahun-tahun akhirnya ia habiskan di Mesir. Dengan kejujuran ilmiah yang mengagumkan, ia meninjau ulang fatwa-fatwa lamanya di sana — maka dikenal qaul qadim dan qaul jadid, pendapat lama dan baru. Ucapannya menjadi teladan adab berbeda pendapat sepanjang zaman: "Pendapatku benar, tapi mungkin salah; pendapat selainku salah, tapi mungkin benar." Juga wasiatnya: "Jika hadits itu sahih, maka itulah madzhabku." Ia wafat di Mesir tahun 204 hijriah dalam usia 54 tahun, meninggalkan madzhab yang kini diikuti ratusan juta Muslim — termasuk mayoritas kaum Muslimin di Indonesia. Dari Imam Syafi'i kita belajar bahwa kemiskinan bukan penghalang ilmu, bahwa menggabungkan dua pendekatan yang tampak bertentangan bisa melahirkan karya terbesar, dan bahwa puncak kealiman justru ditandai kerendahan hati untuk berkata: aku mungkin salah.
Imam Asy-Shafi'i: viaje del conocimiento desde Gaza a Egipto — Dawa