El sustento en el Corán: entre el esfuerzo y el tawakal
La traducción aún no está disponible en este idioma — se muestra en inglés.
⏳ El audio se está procesando — mientras tanto puedes escucharlo en línea.
Kekhawatiran soal rezeki adalah kecemasan paling universal manusia — dan Al-Qur'an menjawabnya berulang-ulang dengan penegasan yang menenangkan: "Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya" (QS Hud: 6). Jaminan ini datang dari Dzat yang menyebut diri-Nya Ar-Razzaq — Maha Pemberi Rezeki — "Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh" (QS Adz-Dzariyat: 58). Namun jaminan itu tidak pernah dijadikan alasan berpangku tangan. Surah Al-Mulk ayat 15 memerintahkan: "Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya." Berjalan — bergerak, bekerja, berdagang, menanam. Bahkan pada hari Jumat, begitu shalat selesai, perintahnya langsung: "bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah" (QS Al-Jumu'ah: 10). Dalam kisah Maryam, Allah mampu memberinya makan tanpa sebab, tetapi ia tetap diperintah menggoyang pangkal pohon kurma (QS Maryam: 25) — isyarat abadi bahwa sunnatullah menghendaki sebab, walau hasil sepenuhnya di tangan-Nya. Al-Qur'an juga membuka pintu-pintu rezeki yang tidak tampak di logika dagang. Istighfar: "Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia menurunkan hujan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu" (QS Nuh: 10-12). Takwa: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka" (QS Ath-Thalaq: 2-3). Syukur yang menambah nikmat (QS Ibrahim: 7), dan infak yang justru menggantikan: "Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya" (QS Saba': 39). Yang terakhir, Al-Qur'an meluruskan ukuran. Rezeki yang dilapangkan bukan tanda kemuliaan, dan yang disempitkan bukan tanda kehinaan (QS Al-Fajr: 15-16) — keduanya ujian. Maka rumus mukmin sederhana: ikhtiar maksimal seolah semua tergantung usahamu, hati bersandar penuh seolah semua tergantung Allah — karena memang keduanya benar.